Selasa, 09 April 2013

Makalah Ilmu Budaya Dasar



BAB I
PENDAHULUAN

Cinta kasih merupakan perpaduan dua kata yang mengandung arti psikologis yang dalam, yang sulit didefinisikan dengan rangkaian kata-kata. Mungkin cinta baru dapat dimengerti atau dirasakan bagi orang yang sudah atau sedang dirundung cinta. Cinta kasih merupakan karunia Allah SWT kepada umat-Nya, manusia makhluk yang paling sempurna dan sebagai khalifah-Nya di muka bumi tercinta ini. Allah menjadikan cinta kasih antara suami istri sebagai bagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya dan bukti kekuasaan-Nya.[1]

Firman-Nya :
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah bahwa Ia menciptakan istri-istri bagimu dari kalanganmu sendiri supaya kamu dapat hidup tenang bersama mereka diadakan-Nya cinta kasih sayang antara kamu, sungguh dalam yang demikian itu ada tanda-tanda bagi orang yang menggunakan pikiran. (QS Ar-Rum : 21)

Cinta memainkan peranan penting dalam kehidupan manusia, sebab ia merupakan landasan kehidupan perkawinan, pembentukan keluarga dan pemeliharaan anak-anak. Ia adalah landasan hubungan erat di masyarakat dan pembentukan hubungan-hubungan manusiawi yang akrab. Ia adalah pengikat yang kokoh dalam hubungan antara manusia dengan Tuhannya dan membuatnya ikhlas berkorban, ikhlas dalam menyembah-Nya, mengikuti jalan-Nya, dan berpegang teguh pada syariat-Nya.










BAB II
PEMBAHASAN

A.      Arti Cinta Kasih
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia karya W.J.S. Poerwadarminta, cinta adalah rasa yang sangat suka (kepada) atau (rasa) sayang (kepada) ataupun (rasa) sangat kasih atau tertarik hatinya. Sedangkan kata kasih artinya perasaan atau cinta (kepada) atau menaruh belas kasihan. Dengan demikian, arti cinta kasih itu hampir sama sehingga dapat dikatakan kata kasih lebih memperkuat kata cinta. Karena itu, cinta kasih dapat diartikan sebagai perasaan suka (sayang) kepada seseorang yang disertai dengan perasaan belas kasihan.[2]
Sedangkan menurut Drs. H. Rohiman Notowidgo dalam buku Ilmu Budaya Dasar Berdasarkkan Al-Qur’an dan Hadits, cinta kasih adalah perasaan kasih sayang, kemesraan, belas kasihan dan pengabdian yang diungkapkan dalam tingkah laku yang bertanggung jawab.[3]
Sedangkan menurut Drs. Mawardi dan Ir. Nurhayati dalam bukunya, cinta kasih adalah tanda kehidupan spiritual dalam kaidah orang mukmin dalam kehidupan islami, dalam agama, keluarga, kelompok, sosial dan bangsa.[4]


B.       Macam-Macam Cinta

1.        Cinta kepada Allah
 Allah adalah pemberi cahaya (kehidupan). Dia Maha Besar, Maha Adil, Maha Sejahtera. Maka, barang siapa yang mencintai cahaya (petunjuk) dan kebenaran,  keadilan dan kebaikan serta keselamatan dan kesejahteraan, berarti ia telah mencintai Allah, karena Dia adalah Maha Cinta.
Puncak  cinta manusia, yang paling bening, jernih dan spiritual ialah cintanya kepada Allah dan kerinduannya kepada-Nya.[5]
Diantara objek-objek pemujaan, ada ditujukan kepada Yang Maha Kuasa, bersifat pemujaan tertinggi. Pemujaan terhadap Yang Maha Kuasa disebabkan adanya kesadaran manusia atas kekuasaan dan kemampuan yang lebih tinggi dari kekuasaan dan kemampuannya, yaitu kekuasaan dan kemampuan yang dapat menentukan hidup matinya seluruh makhluk dimuka bumi ini.[6]
Cinta yang ikhlas seseorang manusia kepada Allah akan membuat cinta itu menjadi kekuatan pendorong yang mengarahkan kehidupannya dan menundukan semua bentuk kecintaan lainya. Cinta ini juga akan membuatnya menjadi seseorang yang cinta kepada sesama manusia, hewan, semua makhluk Allah dan seluruh alam semesta.
Ibu Qayyim, dalam kitabnya Madariyus Shalihin Juz 1 halaman 99, mengatakan:
Pokok ibadah adalah cinta kepada Allah, bahkan mengkhususkan cinta hanya kepada Allah, tidak mencintai yang lain, bersamaan mencintai-Nya. Ia mencintai sesuatu hanyalah karena Allah dan jalan Allah

Demikianlah jalan cinta, berawal dari perintah Ilahi, berakhir dengan ketaatan insani.[7]

2.        Cinta Kepada Rasul ( Muhammad SAW )
Cinta kepada Rasul, yang di utus Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta, untuk memberikan petunjuk dan membersihkan hati manusia, mengajarkan Al-Qur’an dan kebijaksanaan, di pilih sebagai penutup para Nabi, menjadi rasul bagi seluruh umat manusia, dan di turunkan  kepadanya al-Qur’an, kitab Allah yang abadi dan pembenar kitab-kitab_Nya yang telah diturunkan sebelumnya, menduduki peringkat kedua setelah cinta kepada Allah. Karena Rasulullah merupakan ideal sempurna bagi manusia baik dalam tingkah laku, moral, maupun berbagai sifat luhur lainya. Sebagai di kemukakan al-Qur’an :
Dan sesungguhnya kamu benar -benar berbudi pekerti yang agung.” (Q.S. Al- Qalam : 4 )

Dia kekasih Allah dan yang dicintai-Nya... Dia orang Muslim paling awal dan terdepan, pemimpin para Nabi, Rasul paling utama.
Selama beliau menjadi petunjuk kejalan Allah, dan menunjukkan kejalan Allah, maka manusia wajib melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya.
Firman Allah :
Apa yang dibawa Rasul kepadamu, ambillah. Dan apa yang dilarangnya, tinggalkanlah.” ( QS. Al-Hijr : 7 )[8]

3.        Cinta Orang Tua
Anak merupakan buah alami dari kuatnya kasih sayang suami istri, status sebagai ayah dan ibu merupakan kedudukan mulia, penuh makna sebagai ekspresi bahwa Tuhan telah menumpahkan rahmatnya, sehingga keduanya saling dipenuhi rasa kasih sayang dan perasaan tertarik, serta perasaan terikat satu sama lain secara langgeng.
Ikatan yang kuat antara orang tua dengan anak-anaknya merupakan salah satu bentuk hubungan antar manusia yang paling teguh dan mulia.
Cinta orang tua kepada anak-anaknya tidak boleh sama sekali diselingi oleh keraguan. Cinta semacam itu merupakan tanda ke-Tuhanan dan suatu rahmat yang besar bagi kemanusiaan.
Allah berfirman :
Dan di antara tanda-tanda kekuasan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih sayang. (QS. Ar-Rum, 30 : 21).[9]

 Ikatan keluarga dalam islam dianggap sebagai pemula kelompok sosial. Keluarga terdiri dari orang tua dan anak-anak dan dalam hati orang tua tersebut bersemayam rasa cinta terhadap anak-anaknya yang tak pernah putus. Cinta tersebut adalah cahaya yang diberikan Tuhan kepada mereka.
Allah berfirman

4.        Cinta diri sendiri
Ada juga kasih sayang yang bersumber pada antara diri sendiri ( self love ). banyak orang menafsirkan bahwa cinta kepada diri sendiri diidentifikasikan dengan egoisbis. Apabila maksudnya demikian, maka cinta diri sendiri bernilai negatif. Tetapi, apabila diartikan  cinta diri sendiri dengan mengurus diri sendiri sehingga kebutuhan jasmani dan rohaninya terpenuhi secara wajar, maka cinta diri sendiri bernilai positif.[10]
Al-Qur’an telah mengungkapkan cinta alamiah manusia terhadap dirinya sendiri, kecenderungannya untuk menuntut segala sesuatu yang bermanfaat dan berguna bagi dirinya, dan menghindar dari segala sesuatu yang membahayakan keselamatannya, melalui ucapan nabi SAW.[11]
Diantara gejala yang menunjukkan kecintaan manusia terhadap dirinya sendiri, ialah kecintaan terhadap harta, yang dapat merealisasikan semua keinginannya dan memudahkan baginya segala sarana untuk mencapai kesenangan dan kemewahan hidup.

5.        Cinta Keibuan
Kasih sayang yang bersumber pada cinta keibuan, terhadap pada diri seorang ibu terhadap anaknya. Ibu yang memperoleh benih anak dari suaminya tercinta akan memelihara anaknya secara hati-hati dan penuh kasih sayang demi keselamatan keturunannya. Selain ibu, rasa cinta keibuan juga dimiliki oleh guru taman kanak-kanak atau perawat. Sebagian besar adalah wanita yang memiliki naluri alamiah seperti seorang ibu.[12]

6.        Cinta Sesama Manusia
Agar manusia dapat hidup dengan penuh keserasian dan keharmonisan dengan manusia lainnya, manusia tidak boleh membatasi cintanya pada dirinya sendiri dan egoisme. Hendaknya ia menyeimbangkan cintanya itu dengan cinta dan kasih sayang kepada orang lain, berkerja sama atau memberi bantuan kepada mereka.
Al-Qur’an juga menyeru kepada orang-orang yang beriman agar saling mencintai seperi cinta mereka kepada dirinya sendiri. Dalam seruan itu sesungguhnya terkandung pengarahan kepada para mukmin agar tidak berlebihan dalam mencintai diri sendiri dan mengarahkan cinta mereka kepada saudara mereka seiman.
Seperti firman Allah :
“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”. ( QS.Al-Hujarat : 10 )[13]



7.        Cinta Erotis / Seksual
Cinta erat kaitannya dengan dorongan seksual. Sebab dialah yang bekerja dalam melestarikan kasih sayang, keserasian dan kerja sama antara suami dan istri. Ia merupakan faktor yang primer bagi kelangsungan hidup keluarga.[14]
Kasih sayang yang bersumber dari cinta erotis merupakan suatu yang sifatnya ekslusif (khusus), sehingga sering memperdayakan cinta yang sebenarnya. Hal ini disebabkan letak antara cinta dan nafsu tidak berbeda jauh.[15]
Dorongan seksual merupakan landasan pembentukan keluarga, dimana suami istri sama-sama mendapatkan kedamaian hati, sehingga timbul rasa tentram, aman dan damai. Dan antara keduanya timbul rasa cinta, kasih sayang dan rahmat yang mendorong tetap terpeliharanya kehidupan bersama denga harmonisnya dan rasa tolong menolong. Sehingga akan timbul suasana segar, bagi pertumbuhan anak-anak, pemeliharaan dan pembentukan kepribadian mereka secara sehat.
Islam menyerukan pengendaliannya dan penguasaan cinta ini lewat pemenuhan dorongan tersebut dengan cara yang sah yaitu dengan perkawinan.[16]
















BAB III
KESIMPULAN

Cinta kasih merupakan perpaduan dua kata yang mengandung arti psikologis yang dalam, yang sulit didefinisikan dengan rangkaian kata-kata. Mungkin cinta baru dapat dimengerti atau dirasakan bagi orang yang sudah atau sedang dirundung cinta. Cinta kasih merupakan karunia Allah SWT kepada umat-Nya, manusia makhluk yang paling sempurna dan sebagai khalifah-Nya di muka bumi tercinta ini. Allah menjadikan cinta kasih antara suami istri sebagai bagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya dan bukti kekuasaan-Nya

Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia karya W.J.S. Poerwadarminta, cinta adalah rasa yang sangat suka (kepada) atau (rasa) sayang (kepada) ataupun (rasa) sangat kasih atau tertarik hatinya. Sedangkan kata kasih artinya perasaan atau cinta (kepada) atau menaruh belas kasihan. Dengan demikian, arti cinta kasih itu hampir sama sehingga dapat dikatakan kata kasih lebih memperkuat kata cinta. Karena itu, cinta kasih dapat diartikan sebagai perasaan suka (sayang) kepada seseorang yang disertai dengan perasaan belas kasihan.

Macam-Macam Cinta yaitu:
o   Cinta kepada Allah
o   Cinta Kepada Rasul ( Muhammad SAW )
o   Cinta orang tua
o   Cinta diri sendiri
o   Cinta Keibuan
o   Cinta Sesama Manusia
o   Cinta Erotis / Seksual


DAFTAR PUSTAKA

Notowidgo, Drs. H. Rohiman. 2002. Ilmu Budaya Dasar Berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits, Jakarta: PT Grafindo Persada.
Drs. H. Ahmad Mustofa. 1999. Ilmu Budaya Dasar, Bandung: Pustaka Setia.
Drs. Mawardi dan Ir. Nurhayati.2000. IAD-ISD-IBD, Bandung: CV Pustaka Setia.


[1] Drs. H. Rohiman Notowidgo, Ilmu Budaya Dasar Berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits, (Jakarta: PT Grafindo Persada, 2002)hal 69
[2] Drs. H. Ahmad Mustofa, Ilmu Budaya Dasar, (Bandung: Pustaka Setia, 1999), hal 83
[3] Drs. Rohiman Notowidgo. Opcit, hal
[4] Drs. Mawardi dan Ir. Nurhayati, IAD-ISD-IBD (Bandung: CV Pustaka Setia, 2000), hal 69
[5] Drs. H. Mawardi dan Ir. Nurhayati. Opcit. Hal, 72
[6] Drs. H. Ahmad Mustofa. Opcit, hal 89
[7] Drs. Mawardi dan Ir. Nurhayati. Opcit, hal 73
[8] Ibid... hal 74-75
[9] Ibid... hal 75-76
[10] Drs. H. Ahmad Mustafa. Opcit, hal 89
[11] Drs. Mawardi dan Ir. Nurhayati. Opcit, hal 77-78
[12] Drs. H. Ahmad Mustafa. Opcit, hal 90
[13] Drs. Mawardi dan Ir. Nurhayati. Opcit, hal 79-80
[14] Drs. Rohiman Notowidgo. Opcit, hal 80-81
[15] Drs. H. Ahmad Mustafa. Opcit, hal 89
[16] Drs. Rohiman Notowidgo. Opcit, hal 81-82

Tidak ada komentar:

Posting Komentar